Kamis, 05 April 2012

kisah nenek pengumpul daun

btw ini kisah nyata,
mohon di resapi,
*mewek*


ini merupakan cerita haru tentang nenek pemungut daun kering.

cerita dimulai dengan adanya seorang nenek yang selalu datang dari arah pasar ke masjid ketika adzan dzuhur berkumandang.

peristiwa ini terjadi di salah satu kabupaten di pulau madura,

ketika azan dzuhur berkumandang, seorang nenek terlihat datang ke masjid.

Ia langsung menuju tempat wudhu dan mengikuti shalat dzuhur berjamaah.

Ketika usai shalat beliau tetap duduk mengikuti dzikir sampai selesai seperti jamaah yang lainnya.
*kagum*

sepintas tidak ada yang berbeda dengan jamaah yang lain.
nah yang membedakannya,
setelah selesai wirid dan do’a,
jamaah yang lain langsung meninggalkan masjid.

sementara nenek yang itu tidak.
Ia keluar masjid menuju halaman depan masjid,

(biasanya halaman masjid kabupaten berhalaman luas)
*lanjut*
di halaman masjid sang nenek mengeluarkan plastik kresek dari lilitan stagennya,


kemudian si nenek itu memunguti daun-daun kering yang berserakan di sekitar halaman masjid.
Ia pungut daun itu satu persatu dan dimasukkan ke kantung plastik yang sudah disiapkannya sampai halaman masjid itu bersih,

setelah itu kembali ke pasar.

hari demi hari sang nenek melakukannya.,
awalnya tidak ada yang memperhatikan si nenek.

sampai kemudian ada seorang jamaah yang memperhatikanya.
Jamaah itu lalu menegur sang nenek ketika melihat keringat mengucur di wajah dan badan si nenek.

kisah seorang gadis penjual keperawanan

suatu hari seorang wanita berjalan agak ragu memasuki hotel berbintang lima,
petugas satpam yang berdiri di samping pintu hotel menangkap kecurigaan pada wanita itu,
tapi dia hanya memandang saja dengan awas ke arah langkah wanita itu yang kemudian mengambil tempat duduk di lounge yang berada di pojok.

petugas satpam itu memperhatikan sekian lama,
ada sesuatu yang harus dicurigainya terhadap wanita itu,
Karena dua kali waiter mendatanginya tapi wanita itu hanya menggelengkan kepala,

mejanya masih kosong tak ada yang dipesan,
lantas untuk apa wanita itu duduk seorang diri.
adakah seseorang yang sedang ditunggunya,

petugas satpam itu mulai berpikir bahwa wanita itu bukanlah tipe wanita nakal yang biasa mencari mangsa di hotel ini,
usianya nampak belum terlalu dewasa tapi tak bisa dibilang anak-anak,
sekitar usia remaja yang tengah beranjak dewasa,

setelah sekian lama,
akhirnya petugas satpam itu mendekati meja wanita itu dan bertanya:

satpam :
'maaf, nona ... Apakah anda sedang menunggu seseorang'

cw :
'Tidak'
*ngalihin muka*

satpam :
'lantas untuk apa anda duduk di sini'

cw :
'apakah tidak boleh'

satpam :
'maaf nona.
Ini tempat berkelas dan hanya diperuntukan bagi orang yang ingin menikmati layanan kami'

cw :
'maksud bapak'

satpam :
'anda harus memesan sesuatu untuk bisa duduk disini'

cw :
'nanti saya akan pesan setelah saya ada uang',
tapi sekarang, izinkanlah saya duduk di sini untuk sesuatu yang akan saya jual ''


satpam :
'Jual?
Apakah anda menjual sesuatu di sini.?

*petugas satpam itu memperhatikan wanita itu,
tak nampak ada barang yang akan dijual-

petugas :
''Ok lah,
apapun yang akan anda jual,
ini bukanlah tempat untuk berjualan,
mohon mengerti'

cw :
'saya ingin menjual diri saya'

-petugas satpam itu terkesima sambil melihat ke kiri dan ke kanan-

satpam :
'mari ikut saya'
*narik cewe ke koridor hotel*


satpam :
'apakah anda serius'

cw :
'saya serius'

satpam :
'berapa tarif yang anda minta'

cewe :
'setinggi-tingginya'

satpam :
'mengapa'
*penasaran*

cw :
'saya masih perawan'

satpam :
'perawan?'

-satpam itu benar-benar terperanjat,
tapi wajahnya berseri,
peluang emas untuk mendapatkan rezeki berlebih hari ini pikirnya-

satpam :
'bagaimana saya tahu anda masih perawan'

cw :
'gampang sekali,
semua pria dewasa bisa membedakan mana perawan dan mana bukan'

satpam :
'kalau tidak terbukti'.?

cw :
'tidak usah bayar'

satpam :
'oke baiklah,saya akan membantu mendapatkan pria kaya yang ingin membeli keperawanan anda'

cw :
'cobalah'

satpam :
'berapa tarif yang diminta'

cw :
'setinggi-tingginya'

satpam :
'berapa'

cw :
'setinggi-tingginya,
saya tidak tahu berapa'

satpam :
'baiklah,
saya akan tawarkan kepada tamu hotel ini'

-10 menit kemudian-

kejujuran 2 bocah penjual tissue


kejujuran,
sebuah kata yang sangat sederhana tapi sekarang menjadi barang yang sangat langka dan sangat mahal harganya,

mengamalkan kejujuran secara konsisten tidaklah sulit,
tetapi pada saat sebuah nilai kejujuran yang kita pegang berbenturan dengan perasaan,
kita mulai tergoncang apakah tetap memegangnya,
atau membiarkan kejujuran itu tergilas oleh keadaan,

Sebuah kisah kejujuran yang sangat menyentuh hati,
ketika dua orang anak kecil menjajakan tissue di pinggir jalan.
membuat kita harus belajar banyak tentang arti sebuah kejujuran.

Hmmm,
siang ini,
tanpa sengaja saya bertemu dua manusia super,
mereka makhluk-makhluk kecil,kurus,kumal berbasuh keringat,
tepatnya di atas jembatan penyeberangan setia budi,

dua sosok kecil berumur kira-kira delapan tahun menjajakan tissue dengan wadah kantong plastik hitam,
saat menyeberang untuk makan siang mereka menawari saya tissue di ujung jembatan,
dengan keangkuhan khas penduduk Jakarta,
saya hanya mengangkat tangan lebar-lebar,tanpa tersenyum yang dibalas dengan sopannya oleh mereka dengan ucapan,
“terima kasih Oom”

saya masih tak menyadari kemuliaan mereka dan hanya mulai membuka sedikit senyum seraya mengangguk ke arah mereka,

kaki-kaki kecil mereka menjelajah lajur lain di atas jembatan,
menyapa seorang laki-laki lain dengan tetap bersikap layaknya seorang anak kecil yang penuh dengan keceriaan,

laki-laki itu pun menolak dengan gaya yang sama dengan saya,
tetapi sayup-sayup saya mendengar ucapan terima kasih dari mulut kecil mereka,

kantong hitam tempat stok tissue dagangan mereka tetap teronggok di sudut jembatan tertabrak derai angin Jakarta.

saya melewatinya dengan lirikan kearah dalam kantong itu,
dua pertiga terisi tissue putih berbalut plastik transparan,

setengah jam kemudian saya melewati tempat yang sama dan mendapati mereka tengah mendapatkan pembeli seorang wanita,
senyum di wajah mereka terlihat berkembang seolah memecah mendung yang sedang menggayuti langit Jakarta saat itu,

“Terima kasih ya mbak,
semuanya dua ribu lima ratus rupiah”
kata mereka dengan semangat,

tak lama si wanita merogoh tasnya dan mengeluarkan uang sejumlah sepuluh ribu rupiah,